Isi Pilihan

bisakah kami abadi?

tiba-tiba saja dia sudah duduk di sampingku. 'nggak ikut api unggun?', tanya dia. berbeda dengan siang tadi, kali ini dia bertanya dengan pelan. kesan garang yang sempat timbul gara-gara bentakan-bentakannya tiba-tiba lenyap. 'sakit kak', kataku pelan. jawaban bodoh. sebab selain panitia, yang sendirian di tenda pmr -sementara peserta lain sedang mengitari api unggun, sudah pasti peserta yang sakit.

'mau kopi?', tawar dia.

aku menggeleng. 'saya nggak biasa minum kopi', sahutku. yang sebenarnya saya nggak mau minum dari gelas yang sama. lalu aku pura-pura terbatuk kecil, tapi dia tetap menghembuskan sigaret kreteknya.

'kamu lihat apa?', tanya dia.
'bintang-bintang', sahutku pelan. 'juga percikan api unggun di bawah sana. mirip kunang-kunang ya kak?', kataku memberanikan diri.

'menurut kamu indah?', tanya dia lagi. aku mengangguk dan tersenyum, sambil terus memperhatikan bintang-bintang. 'andai saja bisa, aku kepingin punya rumah di sini. di kaki lawu', khayalku.

'gadis bodoh!', kata dia. aku terkejut mendengarnya. 'ah kenapa dia kembali menyebalkan?', kataku dalam hati.

'kunang-kunang adalah keindahan yang rapuh. mudah sekali kita menangkap dan menawannya. malah kalau kita tega, serangga kecil itu gampang binasa di ujung jari kita. ia tidak pernah menyengat. ia tidak mampu melawan. ia pun benar-benar tidak berbisa, paling ia cuma bisa menghindar, terbang ke tengah kegelapan. itu pun dapat kita kejar tanpa banyak kesusahan. sebab kedipan cahayanya, noktah gemerlapan itu, justru selalu jadi petunjuk ke mana kita mesti mengejarnya. benar-benar lemah, seperti penyair yang pasrah', cerocos dia tanpa jeda.

aku diam, menghela napas dan menunggu apa yang akan dikatakannya lagi. tapi dia juga ikut diam. 'senior bodoh!', rutukku tak terucap.

'mungkin karena rapuh, keindahan kunang-kunang tidak terkesan angkuh. ia memancarkan cahaya tanpa bermaksud menghilangkan kegelapan itu sendiri. Ia rasanya tidak seperti cahaya yang mengikis daya magis kegelapan malam. ia tidak seperti lampu neon atau merkuri yang berambisi menjadikan rembulan pucat pasi. kunang-kunang dan kegelapan justru seperti menjalin harmoni. paling tidak, di tengah siang yang terang benderang, cahayanya kehilangan arti', kataku menimpali. 'hey, darimana kudapatkan kata-kata seperti itu?'

'kunang-kunang adalah perhiasan malam', kataku.

'tapi sayang sekali, dia tidak bisa abadi', jawabnya.

sejenak setelah saling pandang, kami kembali terdiam. tiba-tiba saja aku berharap matahari menjadi sakit, sehingga esok enggan keluar dan malam akan semakin panjang. satu harap tercipta, semoga ada kisah selanjutnya dan semoga menjadi kisah yang abadi.

*sebagian dialog adalah milik hawe setiawan dan cerita ini ditulis ulang untuk mereka yang sedang jatuh cinta.

7 merimbun:

juwita mengatakan...

Pantesan banyak orang bilang daunlontar keren. Yang punya romantis juga nggak? :)

Salam kenal ya. Aku betah di sini.

sa mengatakan...

saya juga sedang dan masih jatuh cinta, gre. makasih ya. :)

Erin mengatakan...

A:Mmm... ayahmu seorang astronom ya?
B:Bukan. Kenapa?
A:Ah, enggak... itu... anu... di matamu kulihat bintang...

GUBRAK!!!!

Dialog jatuh cinta atau merayu ya?

Ranukama mengatakan...

Lupa rasanya jatuh cinta...
Terimakasih udah ingetin...:D

aprian mengatakan...

tapi kak.. kenapa mata saya jadi berkunang-kunang melihat kakak ya?, kakak sedang menghipnotis saya?

atta mengatakan...

huhuhuhuhuh
bagus banget
:)

atta (lagi) mengatakan...

posting ini pasti buat aku. iya kan, iya kan. *maksa mode ON* hahahhahahh

Poskan Komentar