oh ya, namamu siapa?
dulu seorang penyair berkata, apalah arti sebuah nama. bukankah mawar akan tetap wangi meskipun namanya bukan mawar?
tapi bayangkan bila kita tidak dinamai.
guru kita pasti bingung ngabsennya. kita pasti susah ngirim surat. ngirim imel. ngurus sim, ktp, atm dan lain sebagainya.
dan bapak-ibu menamai saya gredika. banyak yang mengira saya orangnya putih, gagah mirip orang bule. namun biasanya mereka adalah yang hanya mendengar nama saja, belum pernah bertemu dengan saya. maka ketika bertemu ada saja komentar mereka : "kok item?", apalagi setelah tahu asal desa saya : "kirain bukan orang jawa.." dan sebagainya dan sebagainya.
mereka kecewa, tapi saya bersyukur punya nama gredika. yang tidak setiap orang punya. saya bersyukur punya orangtua yang pintar memilih nama.
ya, saya dari jawa. kabupaten tegal. orang desa. yang bila perempuannya melahirkan, anaknya lantas biasa diberi nama : paijo, parto, supinah, karto dan sejenisnya.
tapi saya diberi nama : gredika. dan saya suka nama saya.
banyak yang keliru mengeja nama saya. kredi, gradi, grady, greedy dan lain sepengucapannya. apalagi orang-orang tua. hanya simbah saya saja yang fasih memanggil nama saya.
gredi. lengkapnya gredika. panjangnya gredika noor hanes. biasa saya singkat gredika enha. teman-teman memanggil saya gre, gred, atau dika. tapi saya lebih senang dipanggil gredika. maka jangan keliru lagi mengeja nama saya.
tapi jangan heran bila ada yang berteriak memanggil botak kepada saya, saya juga biasanya menengok dan memberi senyuman. ya.. kepala saya memang botak. dan saya juga ompong, karenanya kadang beberapa teman saya juga memanggil dengan sebutan ompong.
begitulah, bicara soal nama ternyata pada kenyataannya nama memang perlu diberikan. sebab daya ingat kita lemah. sebab daya cium kita lemah. tidak seperti binatang kaki empat yang hanya dengan membaui kencing sesama mereka saja sudah mengerti dan paham siapa yang kencing dan apa arti kencingnya. tidak seperti burung merpati yang hanya dari gerak gerik saja sudah tahu pasangannya. burung tidak akan keliru mencumbu. kenyataannya kita memang tidak seperti mereka.
dan saya dinamai gredika.
sejarahnya? ada... dulu kebetulan sewaktu saya dalam kandungan, ibu diberi kesempatan ikut penataran "up-grading fisika". [sayangnya saya masih terlalu kecil untuk tahu apa yang dibahas dalam penataran itu]. ya, nama saya dicuplik dari peristiwa tersebut. jadi bukan karena kebarat-baratan. cuma memperingati peristiwa itu saja.
karenanya saya diberi nama : gredika.
oh ya, namamu siapa?
gre-
cari nama ternyata susah juga.
tapi bayangkan bila kita tidak dinamai.
guru kita pasti bingung ngabsennya. kita pasti susah ngirim surat. ngirim imel. ngurus sim, ktp, atm dan lain sebagainya.
dan bapak-ibu menamai saya gredika. banyak yang mengira saya orangnya putih, gagah mirip orang bule. namun biasanya mereka adalah yang hanya mendengar nama saja, belum pernah bertemu dengan saya. maka ketika bertemu ada saja komentar mereka : "kok item?", apalagi setelah tahu asal desa saya : "kirain bukan orang jawa.." dan sebagainya dan sebagainya.
mereka kecewa, tapi saya bersyukur punya nama gredika. yang tidak setiap orang punya. saya bersyukur punya orangtua yang pintar memilih nama.
ya, saya dari jawa. kabupaten tegal. orang desa. yang bila perempuannya melahirkan, anaknya lantas biasa diberi nama : paijo, parto, supinah, karto dan sejenisnya.
tapi saya diberi nama : gredika. dan saya suka nama saya.
banyak yang keliru mengeja nama saya. kredi, gradi, grady, greedy dan lain sepengucapannya. apalagi orang-orang tua. hanya simbah saya saja yang fasih memanggil nama saya.
gredi. lengkapnya gredika. panjangnya gredika noor hanes. biasa saya singkat gredika enha. teman-teman memanggil saya gre, gred, atau dika. tapi saya lebih senang dipanggil gredika. maka jangan keliru lagi mengeja nama saya.
tapi jangan heran bila ada yang berteriak memanggil botak kepada saya, saya juga biasanya menengok dan memberi senyuman. ya.. kepala saya memang botak. dan saya juga ompong, karenanya kadang beberapa teman saya juga memanggil dengan sebutan ompong.
begitulah, bicara soal nama ternyata pada kenyataannya nama memang perlu diberikan. sebab daya ingat kita lemah. sebab daya cium kita lemah. tidak seperti binatang kaki empat yang hanya dengan membaui kencing sesama mereka saja sudah mengerti dan paham siapa yang kencing dan apa arti kencingnya. tidak seperti burung merpati yang hanya dari gerak gerik saja sudah tahu pasangannya. burung tidak akan keliru mencumbu. kenyataannya kita memang tidak seperti mereka.
dan saya dinamai gredika.
sejarahnya? ada... dulu kebetulan sewaktu saya dalam kandungan, ibu diberi kesempatan ikut penataran "up-grading fisika". [sayangnya saya masih terlalu kecil untuk tahu apa yang dibahas dalam penataran itu]. ya, nama saya dicuplik dari peristiwa tersebut. jadi bukan karena kebarat-baratan. cuma memperingati peristiwa itu saja.
karenanya saya diberi nama : gredika.
oh ya, namamu siapa?
gre-
cari nama ternyata susah juga.
Labels:
cinta,
roncean aksara